• Home Penyebab Sedikit Eks Kiper Jadi Pelatih Hebat

Penyebab Sedikit Eks Kiper Jadi Pelatih Hebat


Julen Lopetegui miliki rekam jejak sebagai pelatih yang membawa Timnas U-19 dan U-21 Spanyol jadi juara Piala Eropa. Tapi begitu melatih Real Madrid, kariernya tak terjadi lama. Kurang berasal dari lima bulan dia telah dipecat gara-gara rentetan hasil buruk. Kekalahan 1-5 di laga El Clasico jadi batas kesabaran Presiden Real Madrid, Florentino Perez.

Dikutip bonus deposit 100% member baru, Lopetegui kemudian dicap pelatih gagal. Mengingat semasa ia bermain sebagai kiper, ini seolah mempertegas bahwa susah bagi seorang kiper jadi pelatih hebat. Saat ini, para eks gelandang-lah yang merupakan pelatih-pelatih berhasil di dunia. Pep Guardiola, Didier Deschamps, Diego Simeone, Zinedine Zidane, Massimilliano Allegri, dan Antonio Conte jadi perumpamaan terkini.

Para pemain gelandang telah terbiasa wajib senantiasa berhati-hati apa yang ada di depan, di belakang, dan di ke-2 sisi. Bahkan untuk eks pemain gelandang bertahan seperti Pep, Deschamps, Simeone, dan Conte, mereka diakui hebat sebagai pelatih gara-gara telah terbiasa mengerti setiap jengkal area di lapangan.

“Gelandang bertahan senantiasa miliki peran kontrol pada pemain di sekelilingnya. Ia wajib menyaksikan ke depan, belakang, kanan dan kiri. Itu sebabnya ia wajib miliki kesadaran yang terlalu baik dan kebolehan untuk memicu keputusan dengan cepat. Kesadaran akan area adalah anggota perlu berasal dari seorang gelandang bertahan, tempat pandangnya yang teramat luas memicu gelandang bertahan adalah anggota terpenting di dalam sebuah tim,” kata Johan Cruyff pada sebuah wawancara.

Tidak seperti gelandang, kiper lebih kerap mengkaji apa yang ada di depan, kanan, dan kiri. Area belakang cuma sesekali diperhatikan untuk mengukur posisi ia berdiri, sehingga senantiasa berada di tengah-tengah gawang. Dalam situasi itu, kiper tidak wajib membaca pemahaman taktik lawan, pergerakan pemain lawan, dan sebagainya. Berbeda dengan gelandang mengawasi dan mempelajari seluruh segi lapangan dengan dampak lawan di dalamnya.

Selain itu, seorang kiper juga tidak terbiasa dengan pemahaman area sepakbola. Di lapangan permainan, ia cuma acuhkan area pertahanan. Ia akan repot mengatur teman setimnya yang memberikan celah pertahanan bagi lawan. Ketika timnya menyerang, area bagi kiper cuma ada di belakang pertahanan lawan (yang kelanjutannya dengan memberikan umpan jauh). Apalagi bagi kiper di era lalu, di mana build-up from GK tidak sepopuler sekarang.

Dalam praktiknya, seorang pelatih eks kiper dapat memberikan pemahaman yang tidak serupa dengan seorang pelatih eks posisi lain, di dalam hal ini gelandang. Dalam penelitian Dr. Steven Rynne dan Prof. Chris Cushion, dua profesor olahraga Inggris, pengalaman bermain akan berpengaruh pada ilmu spesifik pada peran tertentu.

“Pengalaman bermain berkontribusi pada kebolehan melatih yang berhubungan dengan ilmu olahraga tertentu, seperti di dalam faktor teknis dan taktis dan juga sudut pandang `organisasi sosialiasi`. Jelas, pengalaman bermain pada mulanya miliki fungsi disaat melatih. Pada pengalaman level top, biarpun bukan yang utama, pengalaman itu dapat memberikan peran di dalam pengembangan seorang pelatih,” tulisnya di dalam penelitian berjudul Playing is not Coaching: Why is So Many Sporting Greats Struggle as Coach.

Sederhananya, seorang pelatih eks gelandang akan lebih mudah memberikan pelajaran atau ilmu pada pemain gelandangnya gara-gara ia kerap berada di posisi dan situasi yang sama. Pengalamannya saat bermain berbicara di dalam pilih apa yang baiknya ditunaikan atau sebaiknya tidak lakukan. Berbeda dengan seorang pelatih eks kiper di mana pengalamannya tidak diperankannya langsung, ia cuma menyaksikan bagaimana teman setimnya yang berposisi sebagai gelandang bermain, di samping segala ilmu yang ia pelajari selama kursus kepelatihan.

Walau begitu, pada sebenarnya tidak seluruh pelatih eks kiper jadi pelatih gagal. Bruce Arena, Raymond Goethals, dan Dino Zoff jadi tiga pelatih eks kiper yang terbilang miliki karier berhasil sebagai pelatih. Arena membawa DC United juara MLS untuk pertama kalinya plus mengantarkan AS ke Piala Dunia; Goethals jadi hanya satu pelatih eks kiper yang menjuarai Liga Champions; Zoff, saat itu, menjuarai Piala UEFA dan Coppa Italia, dan juga jadi runner-up Piala Eropa.

Tapi sebenarnya, bagi Lopetegui, kegagalannya di Real Madrid boleh jadi bukan gara-gara pengalamannya sebagai kiper dan kebolehan taktisnya yang buruk. Toh, tidak cuman dirinya, pelatih macam Carlos Queiroz, Juande Ramos, Manuel Pellegrini, dan Rafael Benitez yang miliki rekam jejak mentereng pun terbilang gagal di Real Madrid.

Tingkat ada masalah melatih di Real Madrid meningkat di dalam hal soal urusan penanganan area ganti, di mana jadi banyak pemain bintang, jadi banyak juga ego yang wajib diredam. Belum ulang soal filosofi permainan Lopetegui yang tidak serupa dengan Zidane plus kepergian Cristiano Ronaldo. Kegagalan Lopetegui lebih kompleks berasal dari sekadar pelatih eks kiper yang susah jadi pelatih hebat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *